Ernesto Valverde, Semut Hitam Pembawa Harapan

Airsport.asiaERNESTO Valverde tengah meniti jalan menjadi pelatih legendaris FC Barcelona. Keberhasilan ini diraih melalui jalan panjang ketika dia lebih banyak menerima kritikan dan cacian ketimbang pujian. Seperti apa ceritanya? Bukan, tanpa alasan Pelatih FC Barcelona Ernesto Valverde diberi nama panggilan Txingurri.

Nama yang dalam bahasa Basque itu memiliki arti semut hitam. Julukan itu diberikan Pelatih Espanyol Javier Clemente saat Valverde membela klub dari Katalan itu. Waktu itu Clemente merasa takjub dengan kemampuan fisik yang dimiliki Valverde.

Meski badannya kecil, pelatih yang lahir pada 9 Februari 1964 itu begitu trengginas di lapangan hijau. Selama dua musim membela Espanyol, Valverde berhasil mengemas 16 gol. Prestasi inilah yang membuat Pelatih Barcelona Johan Cruyff pada tahun 1988 membawa Valverde dari Espanyol.

Waktu itu Valverde disiapkan sebagai pemain cadangan buat trio striker kesayangannya, Txiki Begiristain, Garry Lineker, dan Lobo Carasco. Masalahnya saat itu trio Begiristain, Lineker, dan Carasco begitu digdaya di Liga Spanyol.

Alhasil, Valverde lebih banyak menghabiskan waktunya menghangatkan bangku pemain cadangan. “Yang saya suka darinya, dia tidak pernah mengeluh dan terus berlatih keras dan siap untuk memberikan yang terbaik,” ujar almarhum Johan Cruyff.

Inilah yang membuat Cruyyf menatap serius muka Valverde ketika Barcelona menanyakan kesediaan pria kelahiran Extremadura, Spanyol, itu untuk ikut sebagai penendang bola penalti di babak shoot-out Piala Winners antara Lech Poznan dan Barcelona.

Dia langsung tertegun karena pria kurus bertubuh mungil itu langsung mengatakan kesiapannya. Pelatih berkebangsaan Belanda itu tertegun karena bagi Valverde pertandingan itu merupakan pertandingan perdananya bersama Barcelona.

“Saya sangat mengingatnya karena begitu menggantikan Carasco dua menit sesudahnya, dia langsung kena kartu kuning,” ujar Cruyff suatu waktu. Pelatih kelahiran 25 April 1947 itu kemudian menaruh nama Valverde di daftar penendang penalti setelah Begiristain.

Hal ini menunjukkan betapa percayanya Cruyff menempatkan beban yang berat pada pria bertubuh mungil itu. Sebuah kepercayaan yang hadir berkat kerja keras yang selalu ditunjukkan Valverde tanpa kompromi.

Bayangkan, tim Barcelona tahun 1988 merupakan fondasi awal Johan Cruyff dalam membentuk tim impian yang begitu dominan di Eropa. Di tim itu hadir nama-nama besar selain trio Begiristain, Lineker, dan Carasco hadir nama lainnya seperti Eusobio, Luis Milla, Andoni Zubizarreta, hingga Ricardo Serna.

Tidak heran jika saat itu banyak yang bertanya-tanya siapa Valverde? “Saya menendangnya ke pojok kanan dengan begitu keras. Kalau tidak salah, itu satu-satunya percobaan tendangan ke gawang yang saya lakukan di pertandingan itu,” ucap Valverde.

Tiga dekade berselang, pertanyaan yang sama kembali mengemuka. Pada 29 Mei 2017 Presiden Barcelona FC Josep Maria Bartomeu mengumumkan Valverde sebagai pelatih Barcelona yang baru menggantikan Luis Enrique yang sebenarnya sangat sukses memberikan treble buat klub Katalan itu.

Ada yang memuji langkah Bartomeu saat itu meski tidak sedikit pula yang mencibir. Bahkan, cibiran itu datang dari internal dan penggemar Barcelona sendiri. Cibiran yang diberikan kepada Valverde sebenarnya cukup masuk akal. Meski meraih beberapa gelar juara, ia dirasa tak punya nama besar. Karier kepelatihan yang itu-itu saja membuat nama Valverde tak lebih baik dari medioker lainnya.

Prestasi terbaik Valverde sebagai pelatih hanyalah ketika membawa Espanyol menjadi runner-up Piala UEFA musim 2006/07. Di luar itu, ia hanya bisa meraih gelar di kompetisi-kompetisi yang tak diburu oleh kesebelasan-kesebelasan besar. Apa yang membuat Valverde begitu istimewa mengalahkan nama lainnya yang digadang-gadang menjadi pelatih Barcelona seperti Mauricio Pochettino dan Ronald Koeman.

Apakah hanya karena memiliki trah Barcelona membuat Valverde memiliki keistimewaan untuk melatih klub yang berhasil menjadi juara La Liga musim ini? Txiki Begiristain, rekan Valverde yang saat ini menjabat Direktur Sepak Bola Manchester City, mengatakan Valverde adalah pelatih yang memiliki kemampuan yang berbeda dengan pelatih-pelatih lainnya, bahkan juga pelatih yang pernah memegang Barcelona.

“Dia memiliki gaya dan filosofi yang berbeda. Namun, pada saat yang bersamaan dia memiliki tradisi yang ada di Barcelona,” ucap Begiristain. Pako Ayestaran, mantan pelatih Valencia yang juga pernah mengambil kursus pelatihan bersama Valverde, punya pendapat sendiri.

Baginya, Valverde adalah “dokter” yang tepat untuk menyembuhkan penyakit yang muncul pada era Luis Enrique. Valverde mampu mengatur kualitas pemain-pemainnya. Ia tahu bagaimana seharusnya sebuah taktik digunakan dalam sebuah kesebelasan.

“Ia tahu bagaimana caranya mendekatkan diri ke pemain, tapi tetap menjaga otoritas yang dimiliki. Ia bisa membuat pemainpemainnya merasa nyaman di atas lapangan, tapi tetap menghormatinya di ruang ganti.

Ia punya aura yang bisa mengubah semua keadaan,” kata Ayestaran. Pernyataan Ayestaran menjelaskan semua tentang Valverde. Ia tahu bahwa sepak bola tidak selalu melulu harus menghibur penggemarnya dengan permainan yang indah.

Sepak bola juga butuh kemenangan, gelar, dan piala. Dan itu semua bisa terwujud jika sang pelatih memiliki fleksibilitas tinggi dalam meracik strategi. Inilah yang membuat Valverde berani mendobrak fondasi permainan yang sudah dibuat oleh Johan Cruyff, Frank Rijkaard, hingga Pep Guardiola dengan formasi 4-3-3, yang berhasil mempersembahkan banyak piala, dengan skema 4-4-2.

Sebuah skema yang hanya pernah dicoba pelatih Barcelona pada 2003, Radomir Antic. Berbeda dengan Antic, Valverde berusaha memperkuat semua lini yang ada di Barcelona tanpa terkecuali.  Tidak hanya di tengah dan depan seperti yang dilakukan Pep Guardiola, juga belakang, tengah, dan depan sehingga tercipta keseimbangan semua lini. Ia tak mau hanya lini depannya yang menerima pujian, juga lini belakang dan tengah.

Ia tak mau hanya penyerang yang diapresiasi, tapi juga gelandang, bek, dan kiper. Perubahan tersebut memang membuat Barcelona tak setajam biasanya. Namun, pada akhirnya, keseimbangan yang dicari Valverde terpenuhi.

Lini tengah Barcelona kian kuat, sementara lini belakang makin solid. Fleksibilitas ini yang membuat Barcelona menjadi tim yang tak mudah lagi dibaca. Tak mudah lagi ditebak sehingga sangat luar biasa jika selama dua musim memegang Barcelona, Barcelona hanya kalah tiga kali di La Liga.

Kini pada musim keduanya bersama Barcelona, Valverde berhasil mempersembahkan dua gelar La Liga berturut-turut, yakni 2018 dan 2019. Dia memiliki kesempatan untuk menyerahkan treble buat Barcelona musim ini karena masuk babak final Copa del Rey dan semifinal Piala Champions 2019.

Jika berhasil, maka Valverde tidak perlu mendengarkan kritikan yang mengatakan dirinya merusak tradisi Barcelona. Seperti kata Jose Mourinho, “There are lots of poets in football, but poets—they donít win many titles.