Kuras Fisik dan Tenaga, Atlet Muslim Tetap Berpuasa

Airsport.asia – Para atlet muslim di negeri mayoritas nonmuslim tetap bekerja penuh dedikasi selama Ramadan. Sembari mencoba menahan hawa nafsu, mereka juga berupaya memberikan penampilan terbaik dan membawa gelar juara kepada tim yang dibelanya.

Penyerang andalan klub sepak bola Ajax, Hakim Ziyech, juga tidak mau puasanya batal selama Ramadan, meski pekerjaannya menguras fisik dan tenaga. Dia tetap menahan haus dan lapar selama bermain melawan Tottenham Hotspur pada leg kedua babak semifinal Liga Champions 2018-2019, Kamis (9/5) lalu.

Memasuki waktu Magrib yang ditandai dengan terbenamnya matahari di Amsterdam, Belanda, Ziyech ke tepi lapangan untuk berbuka puasa. Dia memakan semacam suplemen energi berbentuk gel pada menit ke-22 dan berhasil mencetak gol kedua ke gawang Tottenham Hotspur.

Sayangnya, timnya tersingkir dari Liga Champions dengan agregat akhir 3-3. Meski demikian, Ziyech patut bangga karena mampu tampil memukau di lapangan tanpa meninggalkan perintah agama. Dia juga menjadi salah satu pemain kebanggaan Ajax dan Maroko.

Hal yang sama juga dijalani bintang Liverpool, Mohamed Salah. Pemain sepak bola asal Mesir ini juga mengakui tantangan yang dihadapi pesepak bola muslim selama Ramadan berat. “Bisa berpuasa selama Ramadan bagi kami sulit karena kami harus menjalani dua sesi latihan setiap hari dan cuacanya panas,” katanya dikutip thesun.co.uk.

Kondisi serupa juga dirasakan atlet lain. Pebasket muslim Enes Kanter mengaku memiliki persiapan khusus karena waktu Ramadan di AS berlangsung 16 jam. Dia selalu mengonsumsi yogur, buah-buahan, kacang-kacangan, dan air putih sebanyak mungkin ketika sahur.

Pemain New York Knicks tersebut telah merumuskan persiapan tersebut sejak satu dekade lalu. Meski berpuasa, Kanter juga sukses tampil memukau saat melawan Denver Nuggets. Dia rata-rata mencetak 20 poin dengan rebound lebih dari 10 kali per permainan.

“Saya bermain melawan para pemain senior yang sangat hebat dan menjadi satu-satunya pemain yang berpuasa,” kata Kanter, dilansir nytimes.com. “Ketika waktu berbuka tiba, saya meneguk air begitu banyak sampai tak ada lagi ruang untuk makanan,” sambungnya.

Kanter, begitu juga dengan Ziyech dan Salah, menekan kesepakatan khusus dengan klubnya saat menandatangani kontrak. Mereka meminta pihak manajemen menyadari bahwa mereka seorang muslim dan perlu menunaikan ibadah fardhu, tak terkecuali salat lima waktu.