[wbcr_php_snippet id="17359"]

Pabrikan Team MotoGP: Tidak Asal Dalam Memilih Pembalap!

Kontrak pembalap MotoGP dan pabrikannya banyak yang akan habis pada akhir musim 2022 ini. Setiap rider yang diwakilkan oleh manajernya memilih penawaran yang terbaik untuk dapat bergabung dengan tim yang mereka incar. 

Pada sisi lain, manajer tim pabrikan pun sibuk dalam memilih dan menentukan rider yang pas dengan proyek yang mereka kerjakan. Manajer tim pabrikan adalah lawan tanding bagi manajer rider untuk menentukan kontrak yang pas. Mereka akan menegosiasi supaya dapat meraih penawaran serta kesepakatan yang paling baik.

Untuk pihak pabrikan menentukan rider punya tantangan tersendiri. Masing- masing pabrikan memiliki struktur dan cara yang berbeda untuk menetapkan rider andalan mereka di MotoGP.

1. Tidak seluruh manajer tim pabrikan dapat merekrut rider

Definisi dari manajer tim dapat berbeda tergantung pada pabrikannya. Pada tim Ducati (Davide Tardozzi), Yamaha (Massimo Meregalli), juga KTM (Francesco Guidotti), seorang manajer tim merupakan orang yang memiliki tanggung jawab pada pitbox.

Mereka  yang mengatur supaya kondisi garasi race berjalan dengan lancar selama berlangsungnya balapan. Meskipun jabatan mereka manajer tim, mereka tidak memiliki wewenang untuk mengambil  pembalap. Umumnya terdapat orang lain yang memiliki pekerjaan untuk negosiasi dengan pembalap yang sedang mereka incar.

2. Beberapa pabrikan memiliki orang khusus yang bertugas negosiasi dengan rider

Pada Yamaha, Lin Jarvis yang menjabat sebagai Managing Director Yamaha Motor Racing (YMR) memiliki hak untuk negosiasi dengan para pembalap. Keputusan terakhirnya akan ditentukan sesudah konsultasi dengan para petinggi YMR di Jepang.

Pada struktur organisasi KTM, yang memiliki tanggung jawab untuk merekrut rider yaitu direktur KTM Motorsport, Pit Beirer. Beirer bersama dengan para petinggi KTM dan juga boss perusahaan, Stefan Pierer.

3. Ada pula pabrikan yang manajer timnya dapat menentukan rider untuk direkrut

Pada Honda dan juga Suzuki, manajer tim sekaligus memiliki tanggung jawab dalam melakukan pengawasan supaya tim dapat berjalan dengan baik selama perlombaan Grand Prix. Alberto Puig dan Livio Suppo juga memiliki wewenang untuk negosiasi dan merekrut pembalap. Tapi keputusan terakhir tetap berada pada tangan bos di Jepang.

Pada Aprilia, Massimo Rivola yang saat ini menjabat sebagai CEO Aprilia Racing memiliki tanggung jawab pada negosiasi dan menetapkan keputusan. Meski demikian, Rivola tetap harus menaati arahan dari owner Piaggio Group, Roberto Colaninno.

4. Pihak pabrikan harus cerdas memilih rider

Untuk mendapat pembalap, para manajer tim harus mengetahui caranya untuk memilih rider yang pas dan sesuai dengan proyek yang mereka lakukan. Rider harus pas dalam hal gaya berkendara, karakter, dan ciri khas merek mereka. 

Walaupun kecepatan pembalap merupakan faktor paling penting, harus mempertimbangkan juga mudah atau sulitnya berkomunikasi dengan sang rider. Komunikasi yang baik menjadi salah satu dari faktor kesuksesan pada garasi balap.

5. Sponsor utama memiliki hak dalam penentuan pembalap

Hal lain yang penting untuk diperhatikan yaitu permintaan sponsor. Misalnya tim LCR, salah satu sponsor utamanya yaitu Idemitsu, yang meminta satu rider asal Jepang atau pembalap Asia untuk mengendarai kuda besinya.

Begitu juga pada tim Repsol Honda. Salah satu tuntutan dari pihak Repsol yaitu agar salah satu ridernya berasal dari Spanyol. Begitu juga untuk tim WithU Yamaha. Andrea Dovizioso merupakan salah satu alasan dipilih pada musim ini karena permintaan sponsor. WithU yang tak lain adalah perusahaan asal Italia ingin rider yang juga berasal dari Italia.

Penentuan dan pemilihan pembalap bukanlah hal yang mudah. Banyak sekali faktor yang harus dipertimbangkan setiap pabrikan sebelum melakukan kontrak dengan pembalapnya. Bukan hanya perkara asal memiliki pembalap. 

[wbcr_php_snippet id="17364"][wbcr_php_snippet id="17362"]